Beranda > Coretan Pinggir > WE MUST BE CRAZY(5)

WE MUST BE CRAZY(5)

Pagi begitu indah. Meskipun jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, tapi daun dan rumput di sebuah taman kota yang berada di tepi jalan besar itu masih basah oleh embun. Beberapa burung yang bertengger di atas pohonpun terlihat malas untuk mengepakkan sayapnya. Sungguh pemandangan yang indah.

Tapi ternyata itu hanya sesaat karena dari seberang jalan muncul tiga makhluk berlari-kecil kecil menuju ke taman itu. Begitu masuk area taman. tiga orang berbusana ala anak punk itu langsung menduduki rumput. Hmmm… dua orang pria dan seorang wanita yang mengenakan topi. Siapa sih mereka?

Ternyata oh ternyata mereka adalah Argo, Ocol dan Nelly. Dan seperti biasanya, gitar buluk juga selalu menempel di tubuh Argo. Sementara Ocol membawa kecrik. Eh, tahu kecrik nggak? Itu lho… alat musik yang kalo dipukulkan ke badan bunyinya crik, crik, crik… hihihi…

Oya, ada satu lagi makhluk berjenis kelamin perempuan yang mengenakan topi. Namanya Nelly.

Sebentar, Nelly itu siapa? Umurnya berapa? Alamatnya mana? Anaknya siapa? By the way bapaknya kerja di mana? Gajinya berapa? Nelly itu sekolah apa kerja? Kalo sekolah, kelas berapa dan sekolah dimana? Kalo kerja, dia kerja apa? Kantornya dimana? Gajinya berapa? Bosnya cakep nggak? Trus rumahnya dia di mana? Dengan siapa? Semalam berbuat apa?

Hmmm… jadi males deh menjelaskannya (ikon meletin lidah). Tapi yang pasti Nelly juga warga rusun 12. Titik.

Oya, kalo Argo bawa gitar, Ocol bawa kecrik, trus Nelly bawa apa? setelah diselidiki, ternyata dia cuma bawa buku kecil berisi lagu-lagu. Buat dihapalin, katanya.

Entah mengapa Ocol dan Nelly bisa bersama Argo. Bahkan kedua orang ini seperti menjadi pengikutnya. Memang sejak mengikuti guitar lessonnya Argo, Ocol menjadi ingin ikut-ikutan mengamen. Nelly yang kadang-kadang nongkrong bersama mereka juga pengen ikut-ikutan. Ini tidak lain dikarenakan Argo kadang menyelipkan doktrin mengamen saat mengajarkan bermusik.

Seperti pagi ini, di atas rumput basah mereka bermain musik bersama. Dan seperti biasanya juga, sambil memetik gitarnya, Argo menanamkan doktrinnya kepada Ocol dan Nelly.

“Meskipun hanya pengamen, tapi kita tidak kalah dengan penyanyi top.” kata Argo mulai berorasi, “Kita juga punya fans. Seluruh penumpang bus adalah fans kita. Setiap keping uang yang kita terima dari penumpang adalah hasil dari kekaguman atas kemerduan suara kita.”

Ocol manggut-manggut. Nelly mengerutkan dahi.

“Tahu fans nggak? Tahu nggak? Kalau nggak tahu ngomong saja. Biar saya sekalian ngejelasinnya”

“Bukannya yang buat kipas-kipas itu ya?” tanya Ocol lugu.

“Nah, bener kan? Kamu nggak ngerti kan. Masak yang namanya fans saja nggak tahu.”

“Bukannya yang buat ngangkut barang itu ya? Mobil yang bentuknya kotak itu kan?” gantian Nelly yang menyahut.

“Ealahhh, IQ kamu tiarap juga ya, Nel… ckckck..” jawab Argo, “ Sini aku kasih tahu. Kalo yang buat ngangkut barang namanya kain gendong, nengggg… Bukan mobil Van..!”

“Bilang dong kalau kain. Kain fans kan yang buat mbungkus mayat. Kalau itu mah aku tau!” kata Nelly lagi.

“Itu kafan! Ckckckck…” jawab Argo gemes.

“Terus fans itu apaan dong?” tanya Nelly.

Fans itu penggemar. Itu bahasa Inggris. Tahu Inggris nggak? Ah, sudahlah.. percuma juga jelasinnya. Kalian nggak bakal ngerti bahasa asing gitu.” jawab Argo  sedikit kesal.

Apakah setiap penumpang bus adalah fans Argo? Tidak! Argo juga bilang bahwa selain penumpang bus, ada lagi kelompok penggemarnya yang lain. Mereka adalah Satpol PP…!

“Mereka fanatik sekali pada saya. Kadang mereka mengejar-kejar saya. Mereka juga suka banget memaksa saya ikut dengan mereka. Sudah begitu, sesampai di kantor mereka, saya diminta untuk tanda tangan ini itu. Pokoknya males deh kalo ketemu fans yang begini ini. Nah kalo kalian ketemu fans yang begini mending sembunyi deh.” kata Argo.

“Kamu sudah lama jadi pengamen, Go?” tanya Nelly.

“Mungkin sudah setahun ini, Nell.” jawab Argo. “Tapi jangan salah. Meskipun pengamen, saya juga punya cita-cita setinggi langit.”

Ocol memandang mata Argo seolah mencari kejujuran kata-kata itu.

“Memangnya kamu punya cita-cita apa?”

“Hmmm. Jujur saja saya selalu memimpikan bisa mengamen di dalam pesawat terbang!” jawab Argo. Dasar pengamen…!

Dan Nellypun bengong.

Saat itu sebuah bus muncul dan berjalan pelan menuju arah mereka. Dari jauh terlihat bahwa bus itu penuh dengan penumpang. Bagi pengamen, itu adalah rejeki.

“Lihatlah bus itu, kawan. Lihatlah! Di dalam sana penggemar kita sudah menunggu.” kata Argo mengajak kedua temannya berdiri menyambut kedatangan bus itu. “Mari kita tunjukkan bahwa kita seniman profesional. Bahwa keping uang yang mereka siapkan dari rumah, pantas diberikan kepada kita.”

Tidak lama kemudian mereka sudah mengejar bus itu. Secara bergantian mereka masuk lewat pintu depan dan langsung berdiri di tengah-tengah koridor bus tersebut. Mereka mempersiapkan diri untuk menyanyikan sebuah lagu. Kehadiran mereka bertiga sempat membuat gaduh, pasalnya seluruh penumpang bus langsung bersorak-sorak. Alangkah terkejutnya mereka saat menyadari bahwa bus tersebut penuh dengan anak SD. Argo melirik ke arah depan dan di sana ada spanduk bertuliskan STUDY TOUR SD “MASA DEPAN”. Seketika mereka bertigapun lemas. Pantesan hanya ada dua orang dewasa yang duduk di bagian depan. Itu pasti guru mereka.

“Bagaimana nih, Go?” tanya Nelly.

“Udah cuek aja. Kita nyanyikan lagu untuk anak-anak.” jawab Argo.

“Lagu apa?”

Argo garuk-garuk kepala.

“Eh, lagunya Kuburan saja. Lupa-Lupa Ingat. Cocok tuh.” kata Ocol. Argo mengangguk.

Saat lagu Lupa-Lupa Ingat berkumandang, anak-anak SD itu terlihat gembira dan bahkan ikut bernyanyi. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama kecrikan Ocol.

Dan saat lagu itu selesai dinyanyikan, beberapa anak berteriak minta dinyanyikan sekali lagi.

“Sudah dulu ya, adik-adik. Kapan-kapan mas nyanyi lagi.”

Anak-anak semakin gaduh. Seorang guru berdiri dan menuju ke tengah. Dia memandang sekilas kepada ketiga teman kita ini. Lalu menenangkan anak-anak yang masih gaduh.

“Nah anak-anak, tadi lagunya berjudul apa?”

“Lupa-Lupa Ingat.” jawab anak-anak itu.

“Nah… kalian tahu kan, agar tidak jadi anak yang pelupa, kalian harus rajin apa, anak-anak?”

“Belajarrrr…” jawab anak-anak SD itu lagi.

“Bagus. Kalo kalian rajin belajar, nanti kalian bisa jadi anak yang pin…”

“Tarrrr…”

“Bagus. Kalau kalian pintar kalian nanti bisa jadi presi…”

“Dennnn…”

“Anak pinterrr.. nah,  jadi kalian harus pintar biar nanti bisa jadi presiden. Jangan menjadi pengamen ya.” kata ibu guru itu lagi.

“Iya, bu guru…”

Coba, pengamen mana yang nggak keki mendengar doktrin guru itu. Argo, Ocol dan Nelly tiba-tiba merasa seperti murid SMP yang berdiri di depan kelas. Seperti murid yang dihukum karena tidak mengerjakan PR.

Beruntung situasi itu tidak berlangsung lama. Guru itu mengeluarkan uang seribu dari kantong bajunya dan menyerahkan kepada Ocol. Setelah menerima selembar uang itu, merekapun buru-buru berjalan ke arah depan dan menghentikan bus. Dan merekapun keluar dari bus dengan mental yang sudah jatuh. Seperti petinju yang keluar dari ring setelah di TKO oleh lawannya pada ronde pertama.

Ketiga makhluk ini berjalan ke arah trotoar dengan mulut membisu. Mereka menuju sebuah bangku kota dan duduk di sana dengan sikap masih membisu. Gitar buluk Argopun terkulai lemah di atas pangkuan sang pemiliknya. Dalam posisi seperti itu, Argo mengeluarkan kebiasaan joroknya, ngupil. Beberapa kali jari tanggannya mengeksplorer kedua lubang hidungnya. Setelah menemukan obyek kotor itu, dia menjemurnya di senar gitarnya!

Sementara itu Ocol dan Nelly saling melirik. Sepertinya mereka trauma dengan peristiwa tadi. Argo yang merasakan keresahan kedua temannya ikut gelisah.

“Nell, tau nggak apa yang kalau terbuka, trus yang di dalamnya bangun, semua orang yang melihat jadi kabur?” tanya Argo melemparkan teka-teki sambil berharap dapat mencairkan suasana beku itu.

“Ih, jorok!” kata Nelly melotot.

“Jorok apaan? Memangnya kamu mikir apa?”

Resleting kan? Iya, pasti itu kan?”

“Idih. Ngeres otak kamu, Nell!” jawab Argo.

“Trus apaan kalo bukan resleting?”

“Peti jenasah, wekkk..!”

Ocol masih diam meskipun sudah mulai nyengir. Jari tangannya iseng merusak barisan semut hitam yang bergerak di bangku. Yee.. cemen lu, beraninya cuma sama yang kecil. Coba kalo berani, obrak-abrik tuh barisan gajah. Mungkin kata-kata itu yang akan disampaikan apabila para semut bisa bicara.

“Panjang, besar, hitam, rasanya asin. Apaan tuh?” gantian Nelly memberi teka-teki ke Argo.

“Kereta api kecebur di laut..!” bukan Argo yang menjawab. Tapi Ocol.

“Eh, kok kamu tahu sih?”

Ocol nyengir dan membuat suasana kaku tadi sudah mulai mencair. Wajah mereka mulai sedikit ceria.

“Gantian ya, gajah kalo digigit Nelly jadi apa?” giliran Ocol yang bertanya.

Nelly jelas protes keras. “Kok nama saya dibawa-bawa sih?”

“Jangan protes. Jawab aja!” kata Ocol ketus.

“Jadi banyak gajah yang antre.” jawab Argo asal.

“Salah.”

“Jadi minta nambah” Nellypun ikutan menjawab.

“Masih salah.”

“Trus gajahnya jadi apaan dong?” tanya Nelly.

“Jadi panjang belalainya. Hahaha…” seekor semut yang tersesat jalan gara-gara barisannya dirusak Ocol ikut menjawab. Tapi karena suaranya kecil, tidak ada dari ketiga orang itu yang mendengar. Kecuali teman si semut yang ikut tersesat. “Udah. Jangan ikut-ikutan gila. Cepet cari jalan!” kata si semut sambil mengemplang kepala temannya.

“Gajah itu jadi mencari dokter. Takut tetanus.” jawab Argo lagi.

“Masih salah!”

“Terus apaan sih, Col?” tanya Nelly penasaran.

“Beneran nih kamu nggak tahu, Nel?” kata Ocol balik bertanya.

“Iya. Aku nyerah.” jawab Nelly.

“Yah… yang menggigit saja tidak tahu, apalagi saya.”

Nellypun mencak-mencak. Hahaha…

Akhirnya setelah duduk di bangku taman itu beberapa lama, munculah sebuah bus. Ocol dan Nelly kembali saling melirik. Masih terlihat ada trauma di wajah mereka.

“Baiklah sobat. Kita tidak boleh menyerah. Anggaplah tadi adalah pengalaman yang buruk. Lupakanlah dan mari songsong kesuksesan. Lihatlah bus itu. Dengarkan dengan hatimu betapa para penggemar sedang menunggu penampilan terbaik kita.” kata Argo bersiap mengejar bus itu. Ocol dan Nellypun berdiri lalu membututi Argo yang mulai berlari ke arah bus yang baru muncul itu.

Tidak berapa lama kemudian, Argo, Ocol dan Nelly sudah di dalam bus itu. Mereka mengambil tempat berdiri di bagian tengah. Argo menyiapkan gitarnya. tangannya terlihat sedikit bergetar. Mungkin dia masih terbawa trauma. Matanya memandang ke langit-langit bus. Ocol yang berdiri di sebelah kanan Argo juga hanya berani memandang ke arah luar bus. Sementara Nelly yang berdiri di sebelah kiri Argo menundukkan kepalanya. Topi di kepalanya menutupi hampir seluruh wajahnya. Benar-benar sebuah gaya mengamen yang aneh. Ternyata mereka memang masih menyimpan trauma. Mereka benar-benar tidak berani memandang ke arah penumpang.

Argo yang menjadi pemimpin mereka memejamkan mata sejenak. mengambil nafas dan menghembuskan ke luar. Pelan-pelan debaran jantungnya mulai normal. Dan akhirnya dia berani mengeluarkan kata pembukaan…

“Selamat pagi, saudaraku sebangsa dan setanah air. Bagaimana khabar saya? Baik-baik saja bukan? Alhamdulilah… Senang sekali rasanya saya bisa kembali berjumpa dengan anda semua. Dan saya mohon maaf apabila kehadiran kami sedikit terlambat.” begitulah kata-kata pembukaan dari mulut Argo. “Baiklah, sebagai lagu pembukaan kami akan mempersembahkan sebuah lagu dari Matta Band yang berjudul Ketahuan. Selamat menikmati.”

Belum sempat dia menggetarkan sinar gitarnya, tiba-tiba seorang penumpang berteriak.

“Jangan lagu itu! Bosen!”

Mendengar itu,  Ocol merapatkan badan ke Argo. Tubuhnya sedikit gemetar.

“Cuek saja, Col…” kata Argo.

Meskipun nyali mereka menciut karena mendengar teriakan tadi, tapi mereka bertiga berusaha cuek. Dan Argo mulai bernyanyi… lirih… sumbang…

Dari awal aku tak pernah percaya kata-katamu…

Karena ku hanya…

“Stop stop…! Lagu lainnya saja!”

Sekarang giliran Argo yang mulai gelisah. Keringat dingin mulai muncul dan membasahi bajunya. Matanya yang tadi fokus ke salah satu sudut langit-langit bus menjadi liar memandang ke segala penjuru langit-langit bus itu. Raut trauma juga mulai terlihat di wajahnya.

Oya, sebenarnya ada kisah yang melatarbelakangi kenapa Argo suka memandang ke atas saat berhadapan orang banyak. Pernah suatu hari dia semangat mengejar sebuah bus. Dia menggebrak pintu bus dan memaksa kondektur membukakan pintu. Setelah berada di dalam dia tergesa gesa mengambil sikap berdiri di samping sopir. Dia menyiapkan gitarnya dan memulai bersiap melantunkan lagu. Tapi dia menjadi tertegun saat memandang para penumpang. Pasalnya seluruh penumpang berpakaian sama dan membawa senjata lengkap. Oh, my God, dia berada di dalam bus yang membawa sepasukan marinir. Sang sopir dan kondektur bus cuma nyengir. Sementara seluruh marinir dengan sikap diam memandang tajam ke arah Argo. Seperti pandangan orang awam yang keheranan saat masuk ke dalam pameran Believe or Not, itu loh pameran makhluk aneh tapi nyata! Saat dalam kebingungannya, Argo mengangkat tangan kanannya dengan pelan dan meletakkan di depan dahinya. Seperti sikap hormat seorang tentara kepada atasannya. Bibirnya tersenyum kecut. Matanya melirik ke langit-langit bus. Dan sejak itu sampai dengan sekarang, bila berhadapan dengan orang banyak, matanya akan selalu memandang ke atas dengan wajah penuh trauma!

“Lagunya kok Ketahuan melulu. Kayak lagu wajib saja.. kreatif dong! Eh, bisa lagunya Zhivilla nggak? Itu yang Aishiteru.” ternyata orang itu masih protes dan mulai berani meminta lagu.

Ocol menggaruk-garuk belakang kepalanya. Matanya masih tetap memandang pada pemandangan di luar jendela. Nelly makin menunduk dalam. Mereka berdua sangat gelisah. Jantung mereka sudah berdetak melebihi kecepatan yang disarankan.

“Gimana nih, Go? Bisa nggak nyanyi lagu itu?” tanya Nelly berbisik. Perempuan ini sudah mulai panik.

Argo diam. Otaknya berpikir. Dia coba mengingat-ingat tentang lagu itu. Kayaknya dia memang pernah mendengar lagu.

“Iya , aku mulai ingat lagunya.” kata Argo. “Col, nanti kamu ngecriknya pas aku ngejreng gitar ya?”

“I.. iya..” jawab Ocol mulai panik juga.

Argo diam sejenak. Dia menenangkan diri lagi dengan mengambil nafas. Dada yang tadinya kembang kempis mulai terlihat normal meskipun matanya masih memandang ka arah atas. Tak lama kemudian suaranya keluar melantunkan lagu itu…

Hei, Zhivilla… malam ini ku tak kan datang..

Mencoba berpaling sayang… dari cintamu…

Beberapa penumpang mulai ada yang ketawa ketiwi. Bahkan orang yang merequest lagupun berteriak. “Ya bagus. Teruskan!” Mendengar itu Argopun tumbuh semangat. Suaranya yang tadi kecil mulai terdengar mantap.

Hei, Zhivilla… malam ini ku takkan pulang

Tak usah kau mencari aku… demi cintamu…

Hadapilah ini… kisah kita takkan abadi…i..i..i…

JRENGGGG…! Jemari Argo mulai menggetarkan senar gitarnya. Dan demi sejuta topan badai, Argo lupa membersihkan jemuran upilnya yang menempel di senar gitar buluk itu. Akibatnya, kotoran itu bagai peluru yang dilontarkan senjata otomatis. Beberapa orang bisa menghindar. Seorang ibu ngomel-ngomel sambil mengebaskan tangannya untuk menjauhkan kotorn itu.

Hanya satu orang penumpang yang menjadi korban. Kebetulan penumpang itu posisi duduknya persis di depan tempat Argo berdiri. Kebetulan juga penumpang itu sedang dalam status tertidur. Dan kebetulan pula sebuah kotoran melayang ke arahnya saat dia menguap. Orang itupun tersedak dan terbangun dengan muka kebingungan.

“Eh, apaan nih yang masuk ke mulut saya? Siapa nih yang mau macam-macam sama saya?”

Lho? Bukankah itu suaranya…

Benar! Itu suara Black.

Argo, Ocol dan Nelly yang tadinya takut memandang ke arah penumpang akhirnya berani memandang orang itu. Benar itu Black. Di sebelah Black duduk si Aji sambil cengar-cengir. Lho, kok mereka ada di sini? Argo, Ocol dan Nelly memandang ke penumpang yang lain. Ada bu Anna, mbak Hetyk, Pak Dalijo, Pak RT, pak Gofur, pak Jatmiko, mas Dwi, pak Eko dan seluruh warga rusun 12 yang lainnya.

Argo, Ocol dan Nelly baru sadar bahwa bus ini hanya berisi warga rusun 12. Kok bisa begini? tanya batin mereka sambil menggaruk-garuk kepala. Mereka bertiga benar-benar terdiam. Mulut serasa kaku dan terkunci. Raut muka mereka bertiga seketika pucat pasi.

“Hihihi… kalian tidak tahu ya kalau hari ini kita semua mengadakan wisata bersama?” tanya mbak Hetyk sambil mengikik.

Argo nyengir. Sementara itu raut muka Ocol masih pucat.

“Mbak Hetyk kok nggak bilang-bilang kalau mau ada acara wisata bersama?” kata Nelly.

“Makanya sering baca papan pengumuman, nengggg.. hahaha…” kata pak Dalijo.

Akhirnya dapat ditebak. Mereka bertiga menjadi bahan ledekan seluruh warga.

Sementara itu Black masih sibuk mengeluarkan benda yang masuk ke tenggorokannya. Jari tangannya dicucukkan ke dalam mulut, tapi selalu gagal meraih kotoran itu.

“Udah ditelen aja.” kata Aji yang duduk di sebelahnya.

“Ntar dululah. Main telen aja. Apaan sih?” tanya si Black sambil berusaha meraih kotoran itu.

“Obat anti mabuk…”

Beberapa warga yang melihat peristiwa itupun hanya nyengir. (tega ya? bukannya membantu)

“Lagian ngapain kamu ngasih obat kayak gitu sih? Nggak pake permisi lagi!”

“Yeee… siapa yang ngasih? Tuh si Argo yang ngasih!” jawab Aji.

Si Black kayaknya mulai emosi. Mukanya yang hitam sudah terlihat suntuk. Wah gawat, rusak deh acara wisata kalau ada yang berantem. Kata Aji dalam hati. Apapun caranya harus damai nih.

“Eh, Black, tadi kamu kan menguap melulu. Aku pikir sih kamu mau muntah gara-gara mabuk darat. Kebetulan si Argo bawa Antimo. Ya udah aku minta satu aja buat kamu. Kebetulan pas kamu menguap, aku masukin obatnya.” kata Aji berusaha menenangkan Black.

“Tapi kok rasanya asin sama pahit gini?”

“Ya iyalah… namanya juga obat.”

“Trus kok lengket gini ya?”

“Udah ah, jangan rewel. Telan aja, nih dorong pakai air.” kata Aji sambil menyodorkan sebotol minuman. “Biar kamu nggak muntah.”

Saat si Black meneguk minuman botol itu, beberapa warga yang melihat segera berpaling. Menjijikkan..! kata batin mereka sambil memegang leher masing-masing. Kotoran itu seolah-olah juga telah berada di tenggorokan mereka. Wekkk…!

Sementara itu di bangku deretan belakang beberapa warga masih meledek Argo, Ocol dan Nelly.

“Coba tebak, mengapa Argo selalu melihat ke atas?” tanya pak Dalijo. “Karena dia tidak senang melihat burungnya yang kecil. Hahaha.. ”

Garing ya? Iya. Mungkin begitu jawaban hati para warga. Buktinya tidak ada yang ikut tertawa. Dan pertanyaan yang tidak kalah penting lagi, apa maksut jawabannya pak Dalijo itu?

“Mengapa Nelly pake celana?” gantian mbak Hetyk memberi teka-teki. Wow, pertanyaan macam apa itu. Pak Jatmiko yang mendengar teka-teki itu memandang mbak Hetyk dengan wajah mesum. Mbak hetyk membalas tatapan itu dengan melotot. Tidak ada satu orangpun yang menjawab.

Eit bentar. Aji berdiri dan menjawab, “Karena kalau pake Google takut banyak yang membuka. Hihihi… bercanda lho, Nell…”

Nellypun blingsatan. Mukanya merah.

“Gantian saya, jawab nih, mengapa Ocol nggak laku-laku?” tanya Argo. Busyet nih orang, malah ikutan ngeledek temen sependeritaan. Jelas Ocol melotot ke dia. Argo cuek.

“Karena SPGnya nggak masang label. Bener kan?” jawab bu Anna.

“Karena dia item!” mbak Hetyk ikut bicara.

“Salah. Karena namanya Ocol. Coba kalo diganti Laurier..! Hahaha..” jawab Argo terbahak.

Akhirnya perjalanan wisata itupun menjadi ceria. Suasana kebersamaan terasa memenuhi ruangan dalam bus. Argo yang memegang gitar didaulat untuk bernyanyi hingga bus mencapai tujuan wisata. Sebagai upahnya, Argo, Ocol dan Nelly mendapatkan konsumsi gratis…!

  1. April 13, 2011 pukul 2:02 pm | #1

    wakakaka… :)

  2. dargombes dalijo
    April 13, 2011 pukul 3:36 pm | #2

    warganya bisa ngadain wisata pasti yg biayai Pak Jatmiko yg baru sukses menjalankan orderan dr Mas Wahyu…..wkkkwkkkwkkkkk

    • setyaji73
      April 14, 2011 pukul 2:46 pm | #3

      Amin…

  3. April 13, 2011 pukul 4:33 pm | #4

    hehe..Bagus Om lang..
    Trimakasih, dah bikin Wiji ketawa..:D

    • setyaji73
      April 14, 2011 pukul 2:44 pm | #5

      sama-sama, mbak… saya cuma bercanda di sini… hihihi

  4. hanoman
    April 14, 2011 pukul 3:35 am | #6

    wkwkwkwk….kok yo aku neh seng keno…….wkwkwkwkwkwk…jiannn asyemmmmmm tinan….=))=))=))

    • setyaji73
      April 14, 2011 pukul 2:46 pm | #7

      anda belum beruntung mas Argo… hehehe…

  5. semar
    April 14, 2011 pukul 2:18 pm | #8

    lolos

    • setyaji73
      April 14, 2011 pukul 2:47 pm | #9

      mungkin lolos untuk sesaat saja… hehehe…

  6. ly aditya
    April 16, 2011 pukul 2:20 pm | #10

    hahahaha sipp lucu abis… suka banget dech..

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.