INTERMEZZO
Mau tahu teka-teki ala warga Rusun12…? Simak beberapa teka-teki tersebut di sini :
“Benda apa yang empuk tapi kalo dipukul keras..?” tanya Argo.
“Apaan tuh?” Ocol balik bertanya.
“Tahi ayam nempel di helm… hahaha…”
“Hayah…! Aku juga punya. Mengapa mabes TNI bau tahi ayam?” tanya Ocol.
WE MUST BE CRAZY(5)
Pagi begitu indah. Meskipun jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, tapi daun dan rumput di sebuah taman kota yang berada di tepi jalan besar itu masih basah oleh embun. Beberapa burung yang bertengger di atas pohonpun terlihat malas untuk mengepakkan sayapnya. Sungguh pemandangan yang indah.
Tapi ternyata itu hanya sesaat karena dari seberang jalan muncul tiga makhluk berlari-kecil kecil menuju ke taman itu. Begitu masuk area taman. tiga orang berbusana ala anak punk itu langsung menduduki rumput. Hmmm… dua orang pria dan seorang wanita yang mengenakan topi. Siapa sih mereka?
Ternyata oh ternyata mereka adalah Argo, Ocol dan Nelly. Dan seperti biasanya, gitar buluk juga selalu menempel di tubuh Argo. Sementara Ocol membawa kecrik. Eh, tahu kecrik nggak? Itu lho… alat musik yang kalo dipukulkan ke badan bunyinya crik, crik, crik… hihihi…
Oya, ada satu lagi makhluk berjenis kelamin perempuan yang mengenakan topi. Namanya Nelly.
WE MUST BE CRAZY(4)
WE MUST BE CRAZY(3)
Berhembus angin malam. Mencekam, membelai seraut wajah ayu.. (halah, itu kan syair lagu.. hihihi..) Sebenarnya malam memang telah datang. Suara lagu Angin Malam dari mulut Argo yang menyambut datangnya malam membuat suasana benar-benar semakin mencekam. Apalagi suara gitar yang dipetik jemari Argo begitu aneh nadanya (mengingatkan soundtrack film horor saat adegan kuntilanak muncul dengan jeritan khasnya… hihihihi). Mungkin itu memang effek dari beberapa kunci nada baru yang katanya telah tercipta dari hasil eksperimennya.
“Ini kunci nada L dan kalo begini kunci P.” katanya sambil mendemontrasikan gerakan jemarinya di senar gitar. Dan Ocol yang menemani duduk di sebelahnya hanya manggut-manggut menerima guitar lesson itu. Anak berkulit kelam ini memang buta dalam hal permainan alat musik semacam gitar, piano, drum. Pokoknya seluruh alat musik yang dipajang di toko peralatan musik, dia tidak ngertilah. Yang dia tahu cuma kentongan yang dipajang di pos ronda..!
WE MUST BE CRAZY(2)
Sebenarnya siapa sih pria misterius yang menemui pak Jatmiko ini? Kalo dilihat dari bajunya sih trendi, model Hawai bro.. Tapi kalo dilihat dari wajahnya, hmmm, kayaknya bukan orang penting deh. Malah mirip tukang kebun. Hihihihi…
“Waktu saya lahir, bapak saya memberi nama Wahyu.” begitulah pria itu memperkenalkan dirinya. “Saya bisa maklum kalau bapak tidak kenal saya. Saya memang bukan warga di sini.“
Pak Jatmiko cuma manggut-manggut.
“Tapi kalo di rumah orang tua saya, semua kenal saya, pak. Bapak saya kenal, ibu saya juga. Sodara-sodara saya juga kenal saya, pak. Cuma kadang-kadang kalau di depan umum, adik saya yang bungsu tidak mau mengakui sodaraan sama saya. Dia lebih suka menganggap saya pembantunya. Hihihi…” Wahyu meneruskan ceritanya.
WE MUST BE CRAZY (1)
Yang namanya malam, meskipun tidak disuguhi kopi, toh tetap nongol. Meskipun tahu kalau Jumat kliwon, tetap saja datang. Bahkan ketika hujan deras, dia tak mau terlambat absen. Kamu tahu kenapa? Nah, nanti kalo kamu sudah menemukan jawabannya kasih tahu saya juga ya. Karena saya juga pengen tahu. Hihihi…
Sekarang kembali ke cerita malam. Malam selalu identik dengan gelap, bintang dan bulan. Malam juga kadang identik dengan seram karena kata orang-orang tua sih hantu lebih suka muncul waktu malam hari. Tapi Aji tidak akan bercerita tentang malam. Karena dia tidak suka hantu, dan biasanya kalo malam waktunya orang tidur. Aji maunya cerita tentang pagi ini, dimana dia sedang mengelap motornya yang buluk dan ada seorang pria tergopoh-gopoh mendatanginya. Dan supaya menyingkat ketikan, maka waktu dan tempat saya serahkan kepada Aji untuk bercerita. Berceritalah, Ji…
BOM BUKU
Black merasa kesal karena malam itu udara sangat panas. Memang udara panas ini dipengaruhi oleh mendung yang menggantung sejak sore tadi. Mendung yang sepertinya enggan menurunkan hujan (minta turun pake eskalator kali…). Kamar rusun kami yang berukuran 4×3 meter kontan berubah menjadi krematorium.
“Ya, Tuhan.. jangan buat kulit saya sehitam kulit Santi. Eh, si Black ding.” doa saya.
“Memang kenapa? Biarpun item yang penting manis!” jawab Black ketus. Saat itu seekor semut yang tadinya mendekati Black tertegun kaget dan membatalkan niatnya menaiki wahana hitam itu.

Komentar Terakhir